BOGOR – Harga sebagian produk obat dari BUMN Farmasi di bawah Bio Farma Grup, yang lebih mahal dibandingkan perusahaan swasta nasional, mendapat sorotan dari anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi NasDem, Asep Wahyuwijaya.
Asep Wahyuwijaya menilai, mahalnya harga obat ini disebabkan
oleh beberapa faktor.
Dalam pernyataannya usai mengikuti rapat Komisi VI DPR
RI bersama PT Bio Farma dan anak perusahaan BUMN perusahaan itu di
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, belum lama ini, Asep Wahyuwijaya
mengatakan bahwa persoalan harga obat tidak dapat disamaratakan untuk seluruh
produk.
Terlebih untuk obat generik yang pada dasarnya tidak memiliki
merek dan memiliki harga terjangkau.
Tetapi, Asep Wahyuwijaya menilai bahwa perbedaan harga yang
terjadi di pasar kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya biaya produksi.
Hal itu sangat memungkinkan mengingat masih adanya
ketergantungan bahan baku impor yang mencapai sekitar 90 persen.
“Saya khawatir kenaikan harga dipengaruhi oleh kondisi
tersebut,” kata Asep Wahyuwijaya.
Selain itu, legislator asal dapil V Kabupaten Bogor ini juga
menyoroti kondisi PT Indofarma Tbk yang menurut dia masih sangat bergantung
pada pasar BPJS Kesehatan.
Menurut Asep Wahyuwijaya, sekitar 50 persen bisnis perusahaan
tersebut masih bertumpu pada penjualan untuk program
jaminan kesehatan nasional.
“Sementara harga yang ditetapkan BPJS memang relatif murah,”
ungkap pria yang akrab disapa Kang AW ini.
Meski begitu, Asep melihat adanya peluang bagi Bio Farma
Group untuk memperbaiki portofolio bisnis dan meningkatkan daya saing
produknya.
Asep menilai, pengaturan harga, jenis, hingga komposisi
produk dapat dioptimalkan agar memberikan keuntungan yang lebih baik bagi
entitas seluruh di bawah Bio Farma Group.
Di sisi lain, Komisi VI DPR RI berkomitmen untuk terus mendalami tata kelola
internal BUMN Farmasi, termasuk melakukan pengecekan langsung terhadap
produk-produk masyarakat yang selama ini dikeluhkan karena dianggap terlalu
mahal.
"Perlu kita cek satu per satu obat mana yang dianggap
mahal. Karena tidak semua obat seperti itu. Kalau obat generik, tentu
kondisinya lebih murah," imbuh Asep Wahyuwijaya.
Sumber: Radar Jabar


0 Komentar