BOGOR - Partai NasDem menilai penyamaan partai politik dengan entitas korporasi sebagai framing yang merendahkan mandat rakyat yang telah diberikan melalui pemilu.
Ketua DPP Partai NasDem Asep Wahyuwijaya di Bogor, Jawa Barat, Senin,
mengatakan partainya dibangun bukan sekadar sebagai wadah massa, melainkan
berlandaskan gagasan besar perubahan untuk kemajuan bangsa.
Menurut dia, Partai NasDem didirikan dengan nilai dan cita-cita besar yang
diwariskan untuk kepentingan publik, sehingga tidak tepat jika diposisikan
layaknya perusahaan.
“Jadi, Partai NasDem ini dilahirkan dan dibangun dengan nilai dan cita-cita
besar. Hari ini, pemilik yang notebene pemilihnya pun sudah belasan juta, kader
aktifnya sudah jutaan, pengurusnya sudah ratusan ribu, bahkan anggota
parlemennya pun sudah ribuan,” ujarnya.
Ia menegaskan, dengan basis dukungan yang luas tersebut, NasDem telah menjadi
milik publik, bukan entitas privat seperti korporasi.
“NasDem, menurut saya, sekarang sudah menjadi domain atau milik publik,” kata
Asep yang juga menjabat Anggota DPR RI asal Dapil V Jawa Barat (Kabupaten
Bogor).
Asep juga menyampaikan keyakinannya terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai
NasDem, Surya Paloh, yang dinilai tidak akan mengambil langkah gegabah dalam
menentukan arah partai.
Ia menilai Surya Paloh sebagai sosok politisi yang telah menuntaskan
kepentingan pribadi dan keluarganya, serta mendedikasikan diri untuk membangun
partai sebagai warisan bagi masyarakat.
Selain itu, Asep menyoroti bahwa kerja-kerja partai politik memiliki karakter
yang berbeda dengan korporasi, sehingga tidak dapat disamakan dalam konteks
pengelolaan maupun orientasinya.
“Kerja-kerja partai politik tentunya tidak bisa disamakan dengan aksi korporasi
sebuah entitas usaha. Sangat berbeda,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong agar hubungan politik antarpartai, termasuk dengan
Partai Gerindra, diarahkan dalam bentuk aliansi strategis yang berbasis nilai
dan komitmen kebangsaan.
Menurut dia, aliansi strategis memiliki makna yang lebih kuat dibandingkan
sekadar koalisi yang bersifat pragmatis.
“Aliansi strategis itu ikatannya lebih karena komitmen atas nilai dan cita-cita
demi kemajuan bangsa tanpa harus terjebak dengan misalkan bagi-bagi jatah kursi
di kabinet,” kata Asep.
Ia menambahkan, sikap politik NasDem selama ini menunjukkan komitmen etis,
termasuk dalam mendukung pemerintahan Presiden Prabowo tanpa menuntut posisi di
kabinet.
Asep menilai hal tersebut sebagai bentuk pendidikan politik kepada publik
tentang pentingnya sikap tahu diri dan konsistensi terhadap nilai-nilai
politik.
Ke depan, ia berharap komitmen strategis dan etis antarpartai dapat terus
diperkuat dalam praktik politik nasional.
Sumber: Megapolitan


0 Komentar