Legislator NasDem dorong transparansi dan perlindungan saat harga BBM naik


 BOGOR - Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Asep Wahyuwijaya mendorong transparansi kebijakan serta perlindungan masyarakat di tengah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akibat tekanan geopolitik global.


Legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) itu di Cibinong, Minggu, menilai kenaikan harga BBM non-subsidi di tengah dinamika konflik di kawasan Timur Tengah merupakan kondisi yang sulit dihindari, mengingat Indonesia masih terhubung erat dengan pasar energi global dan fluktuasi nilai tukar.

Menurut Asep, langkah penyesuaian harga perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan fiskal dan kesehatan sektor energi nasional, namun dampaknya terhadap masyarakat kecil harus menjadi perhatian utama.

“Dalam situasi global yang tidak menentu, kebijakan energi oleh pemerintah tidak hanya dituntut untuk adaptif, tetapi juga harus berpihak kepada masyarakat,” kata Asep.

Ia menegaskan PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha milik negara memiliki peran strategis yang tidak hanya berorientasi pada fungsi komersial, tetapi juga harus memperkuat tanggung jawab publik sebagai penyangga stabilitas energi nasional.

Menurut dia, kenaikan BBM non-subsidi berpotensi memicu efek berantai terhadap biaya logistik, tarif transportasi, harga jasa, hingga menambah tekanan bagi pelaku usaha kecil, petani, dan nelayan.

Jika tidak diantisipasi dengan baik, lanjut dia, kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan daya beli masyarakat serta meningkatkan tekanan inflasi nasional.

Asep mendorong pemerintah melalui Pertamina memperkuat stabilitas pasokan dan distribusi energi agar tidak terjadi gangguan yang dapat memperburuk situasi di lapangan.

Selain itu, ia meminta transparansi dalam mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi agar publik memahami dasar kebijakan dan dapat meminimalisasi spekulasi pasar.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Pertamina dalam menjalankan fungsi pelayanan publik, khususnya untuk menjaga ketersediaan BBM subsidi bagi masyarakat yang berhak.

Menurutnya, kebijakan mitigasi yang terukur juga perlu diperkuat melalui perlindungan sosial yang adaptif, stabilisasi harga kebutuhan pokok, serta dukungan terhadap sektor UMKM dan transportasi publik.

“Pemerintah melalui peran Pertamina sebagai jangkar stabilitas energi nasional sangat krusial dalam memastikan bahwa beban penyesuaian tidak ditanggung secara tidak proporsional oleh masyarakat menengah dan kecil,” ujarnya.

Ia juga meminta pengawasan terhadap rantai distribusi diperketat untuk mencegah praktik penimbunan dan kenaikan harga yang tidak wajar di tingkat pasar.

Asep meyakini dengan kebijakan yang tepat, terkoordinasi, dan responsif, dampak kenaikan BBM non-subsidi dapat dikelola tanpa mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi nasional.

Sumber: Antara

0 Komentar