JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Asep Wahyuwijaya menyoroti agenda transformasi dan perampingan (streamlining) BUMN, khususnya di lingkungan Pertamina dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama Pertamina.
Politisi Partai Nasdem itu menilai bahwa struktur holding
Pertamina yang saat ini terdiri dari empat subholding utama, yakni Subholding
Upstream (PHE), Subholding Downstream (Patra Niaga), Subholding Gas (PGN),
serta Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE).
Namun, pembahasan selama ini lebih banyak berfokus pada
integrasi horizontal atau clusterisasi antar-subholding. Oleh karenanya Ia
mempertanyakan apakah desain besar perampingan tersebut sudah mencakup
integrasi vertikal secara menyeluruh dan telah mendapat persetujuan yang jelas.
“Yang dibicarakan selama ini soal streamlining horizontal.
Tapi bagaimana dengan streamlining vertikalnya? Ini perlu dikonfirmasi, sudah
sejauh mana dan akan jadi berapa jumlah akhirnya,” ujar nya dirung komisi VI
DPR RI, gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/2/2026) .
Tak hanya itu, Asep yang biasa dikenal dengan sebutan Kang AW
mengungkapkan, melalui agenda Danantara, pemerintah menargetkan jumlah BUMN
yang saat ini mencapai lebih dari seribu entitas akan dirampingkan menjadi
sekitar 200 hingga 300 perusahaan pada 2026.
Langkah tersebut diyakini mampu menghasilkan efisiensi hingga
Rp50 triliun per tahun, yang terdiri dari Rp20 triliun efisiensi langsung
(direct) dan Rp30 triliun efisiensi tidak langsung (indirect).
Saat ini tutur Pria asal Jawa Barat, Pertamina disebut
memegang peran besar dalam agenda tersebut. Pasalnya, perusahaan energi pelat
merah itu memiliki sekitar 250 anak dan cucu perusahaan, hampir seperempat dari
total entitas BUMN yang ada.
“Kalau target efisiensi Rp50 triliun itu bisa kita capai,
maka hampir seperempatnya ada di Pertamina. Artinya kontribusi Pertamina sangat
signifikan dalam menyelamatkan keuangan negara,” katanya.
Asep juga menyinggung sejumlah anak usaha yang dinilai tidak
berkaitan langsung dengan bisnis inti energi. Ia mencontohkan perusahaan
asuransi, penyedia tenaga kerja (man power supply), rumah sakit, hingga event
organizer (IO).
“Maskapai Pelita jelas arahnya digabung dengan Garuda. Ada
juga IT dan Aismi. Ini contoh-contoh yang masuk dalam agenda Danantara,”
ujarnya.
Menurutnya, publik perlu mendapatkan gambaran yang jelas
bukan hanya soal pengelompokan horizontal, tetapi juga tentang berapa jumlah
anak-cucu perusahaan yang akan dipertahankan setelah proses perampingan
vertikal dilakukan.
Ia juga mengaitkan agenda efisiensi ini dengan kondisi fiskal
negara yang dinilai terbatas. Menurutnya, setiap potensi penghematan, termasuk
yang selama ini dianggap kecil, harus dioptimalkan untuk memperkuat kapasitas
fiskal nasional.
“Sekarang ini belanja negara banyak terserap ke pos-pos
besar. Uang-uang kecil dalam tanda kutip pun harus kita kejar, apalagi kalau
bisa masuk sebagai tambahan ruang fiskal,” katanya.
Asep meminta manajemen Pertamina memaparkan secara transparan
perkembangan agenda streamlining vertikal di internal perusahaan.
“Sekarang sudah berapa anak-cucu perusahaan yang tersisa?
Berapa yang sudah dilikuidasi? Ini yang perlu kita ketahui dan kawal bersama,”
tutup dia.
Sumber: telusur.id


0 Komentar