JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Asep Wahyuwijaya, menekankan pentingnya transformasi tata kelola di tubuh PT Pertamina (Persero) dan subholdingnya. Menurut Asep, empat hal pokok yang perlu menjadi perhatian Pertamina adalah peningkatan kapasitas produksi, peningkatan kontribusi bagi negara, peningkatan efisiensi biaya, serta perbaikan tata kelola manajemen internal maupun dalam ekosistem usahanya.
“Kalau transformasi tata kelola di ekosistem usaha dan level
produksi bisa dilakukan, sebetulnya kita bisa mencontoh Petronas yang mampu
memproduksi 2,4 juta barel per hari. Jadi, kapasitas Pertamina ini baru sekitar
20-an persennya saja,” ungkap Asep dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan
jajaran direksi Pertamina di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis
(11/9/2025).
Legislator NasDem asal Dapil Jabar V (Kabupaten Bogor) itu
juga mengungkapkan potensi kontribusi Pertamina dari sektor hulu yang cukup
besar. Dengan penguasaan produksi di hulu lebih dari 70%, Asep menilai masih
ada ruang konstribusi tambahan yang cukup besar untuk meningkatkan penerimaan
negara yang akan berdampak pada pengurangan beban pajak kepada
masyarakat.
“Jika Pertamina sebagai salah satu BUMN terbesar di republik
ini dapat memberikan konstribusi kepada negara dengan jumlah yang jauh lebih
besar, masyarakat pun akan diuntungkan, karena berbagai tuntutan penambahan
beban pajak kepada rakyat pun praktis akan berkurang,” jelas Ketua Bidang
Energi Sumber Daya Mineral DPP Partai NasDem itu.
Selain itu, Asep Wahyuwijaya yang akrab disapa Kang AW,
menekankan perlunya kejelasan arah strategi Pertamina dalam meningkatkan
kapasitas produksi di sektor hulu. Ia mengingatkan Pertamina agar melakukan
pengkajian secara komprehensif atas rencana kegiatan yang akan dilakukannya.
"Mau melakukan eksplorasi untuk menemukan sumur baru
atau melakukan eksploitasi dengan cara melakukan pengeboran sumur tua,
Pertamina tidak terjebak pada aktivitas teknis semata, melainkan harus
berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi," katanya.
“Kalau hanya mau menggali sumur terus, tanpa kita mengetahui
kapasitas produksi minyaknya, hal itu tentu hanya akan menjadi pemborosan. Beda
kalau kita menggali sumur lalu mendapatkan minyaknya, ada hasil yang dapat
dinilai sepadan dengan pengeluaran,” imbuhya.
Bukan hanya minyak, Asep juga menyoroti isu pasokan gas,
khususnya Liquefied Natural Gas (LNG), yang sempat mengalami kelangkaan. Ia
meminta Pertamina melakukan kajian mendalam agar persoalan tersebut tidak
kembali terulang.
Sebelumnya, Direktur Utama Perusahaan Gas Negara (PGN) Arief
S Handoko mengungkapkan bahwa profil gas balance PGN periode 2025 sampai
2035 mengalami tren penurunan. Pada 2035 mendatang wilayah Sumatra dan Jawa
Barat diperhitungkan akan mengalami kekurangan gas hingga 513 juta kaki kubik
standar per hari. Penyebab utamanya, kata Arief, karena penurunan produksi gas
dan belum ditemukannya sumber gas baru untuk mengimbangi penurunan produksi
tersebut.
“Saya memahami bahwa urusan yang kita bicarakan ini
barangkali tidak seartifisial yang kita diskusikan di sini. Banyak hal yang
menjadi kendala dalam ekosistem bisnis migas, tetapi mudah-mudahan dengan
semangat kerja bersama, apa yang harus dilakukan bisa dijalankan,” tegas
Asep.


0 Komentar